MENGGALI KEBENARAN » Diskusi, Tafsiran » Mengetahui Tafsiran Firman Allah
Mengetahui Tafsiran Firman Allah
BAGAIMANA MENGETAHUI TAFSIRAN FIRMAN ALLAH ITU BENAR?
[by samson h]
Tidak mudah untuk mengetahui kebenaran suatu tafsiran. Memang harus diakui bahwa ada bagian Alkitab yang mudah dimengerti dan ditafsirkan, bahkan orang awam sekalipun bisa memahaminya dengan mudah, tetapi ada banyak bagian firman Allah yang sulit dipahami dan menuntut pembelajaran yang serius dan saksama. Petrus mengingatkan umat Kristen untuk berhati-hati dalam menafsirkan firman Allah karena ada bagian Alkitab yang sulit dimengerti. Oleh karena itu janganlah sembarang memberikan tafsiran dan pengertian karaena hal itu membinasakan dan menyesatkan diri sendiri (ref. 2 Petrus 3:16). Tingkat kesulitan firman Allah itu berbeda-beda, terkadang ada yang mudah dan ada juga yang tidak bisa dimengerti sama sekali atau tidak memiliki jawaban yang pasti terhadap ayat tertentu. Namun itulah keterbatasan manusia dalam mengerti perkataan Tuhan. Tetapi jika berada pada posisi sulit seperti itu, umat Kristen cukup menerima hal itu sebagai fakta bahwa tidak semua firman Allah bisa dimengerti. Di sinilah tuntutan kerendahan hati diperlukan, dimana manusia itu lemah dan memiliki keterbatasan.
Namun hal ini bukanlah berarti Alkitab itu sesuatu yang tidak bisa dimengerti orang Kristen. Alkitab diberikan Tuhan agar umat Allah memiliki firmanNya dan mengerti apa rencana dan tuntutanNya bagi setiap manusia. Meskipun Alkitab itu perkataan Tuhan, tulisannya mengikuti norma penulisan seperti tulisan-tulisan lainnya. Kata benda menunjuk pada benda tertentu, kata kerja menunjuk pada suatu pekerjaan atau tindakan. Kalimat dalam Alkitab masih sama sebagai pernyataan, pertanyaan atau perintah seperti lazimnya suatu tulisan. Aturan-aturan normal sebuah tulisan tetap berlaku. Sama seperti buku-buku lain, jika ingin mengerti isinya, seseorang itu memulai suatu proses pemahaman teks dengan mengambil makna alami kata dalam hubungannya satu sama lain, menafsirkannnya sesuai dengan aturan normal tata bahasa dan sintaks. Dengan kata lain, orang Kristen harus memahami kata-kata dalam konteks kalimat, kalimat dalam konteks alinea atau paragraf, paragraf dalam konteks bab, bab dalam konteks buku dan sebagainya.
Untuk mempermudah pemahaman pembaca, mungkin contoh berikut akan sangat menolong. Misalkan kamu menerima sebuah surat cinta dari orang yang sangat dikasihi. Tulisan yang merupakan ungkapan hati dan perasaan penulis tertuang dalam surat itu. Penulis menuliskan surat cinta itu begitu indah dan menarik dengan memakai berbagai kiasan atau metafora untuk menggambarkan keseriusan dan kesetiaannya. Kamu sebagai penerima surat harus memahaminya dalam konteks maksud penulis bahwa cinta itu untuk kamu. Dengan demikian dalam pikiran kamu akan menafsirkan tulisan itu, ketika penulis menggunakan kata metafora atau apa yang harus diambil secara harfiah. Beginilah bahasa itu bekerja ketika dipakai sebagai alat berkomunikasi. Kamu harus mencoba memahami apa sebenarnya yang ingin disampaikan atau dikomunikasikan penulis.
Salah satu hal penting untuk mengetahui suatu tafsiran itu benar atau tidak adalah dengan memperhatikan bagaimana penafsir menjelaskan tafsirannya. Apakah ia menafsirkan ayat itu sesuai dengan konteks ayat, alinea, bab dan buku itu? Atau apakah ia memberikan penasiran keluar dari konteksnya (tidak ada hubungannya dengan pokok pahasan ayat, alinea atau bab tersebut).
Untuk memperjelas hal ini, contoh pertama yang perlu diangkat adalah 2 Korintus 6:14, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?.” Bagian pertama dalam ayat ini, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya” sering ditafsirkan sebagai larangan menikah dengan orang yang tidak seiman. Mungkin karena adanya kata “pasangan” dalam kalimat itu. Sebagai akibatnya, dalam upacara pernikahan, ayat ini sering dikutip dan dianggap sebagai ayat relevan. Namun jika memperhatikan konteks ayat ini dalam ayat, alinea dan babnya, sangat jelas bahwa tidak ada satu indikasi yang mengarah pada hal pernikahan tetapi konteks sebenarnya adalah tentang ibadah atau penyembahan. Jadi jika ayat ini diartikan sebagai penjelasan tentang larangan menikah dengan orang bukan Kristen, itu keliru dan tidak sesuai dengan apa yang disarankan konteksnya. Jika ingin mendapatkan ayat tentang larangan pernikahan bede agama, 1 Korintus 7:39 akan menjadi ayat yang lebih tepat.
Contoh kedua yang perlu dipertimbangkan adalah adanya kelompok gereja tertentu yang mengajarkan, “Jika seseorang tidak bisa berbahasa roh orang itu tidak memiiliki keselamatan atau belum sungguh-sungguh percaya pada Yesus.” Pernyataan ini bukanlah sesuatu yang asing sekarang ini. Meskipun tidak diketahui siapa pertama sekali yang memproklamirkan ajaran ini, namun yang pasti pernyataan ini tidak memiliki fondasi dari firman Allah. Tidak ada satu ayat firman Allah yang menyatakan ajaran ini. Untuk memastikan suatu ajaran itu benar atau sesat, Alkitab harus menjadi fondasinya. Setiap ajaran atau doktrin harus memiliki ayat-ayat pendukung sebagai dasar. Jika suatu ajaran atau doktrin tidak memiliki ayat-ayat pendukung, maka ajaran atau doktrin itu sesat dan keliru. Siapa yang mempercayai suatu ajaran yang tidak didasarkan pada firman Allah akan menuntunnya semakin jauh dari firman Allah dan tidak menutup kemungkinan semakin banyak ajaran-ajaran baru yang akan diterima sebagai ajaran atau doktrin meskipun tidak ada dalam Alkitab.
Jadi, untuk mengetahui suatu tafsiran itu benar, kita harus mencari tahu terlebih dahulu ayat-ayat pendukung yang dipakai sebagai fondasinya. Setelah mendapatkannya, baru kemudian mencoba mempelajari ayat-ayat tersebut sesuai dengan konteks ayat, alinea, bab, buku dan keseluruhan Alkitab. Di sinilah letak keunikan Alkitab dibanding dengan buku-buku lain di dunia ini bahwa Alkitab tidak mengandung kesalahan dan kekeliruan. Alkitab itu sempurna karena penulis Alkitab itu satu yaitu TUHAN. Meskipun pada kenyataannya Alkitab ditulis oleh banyak orang-orang kudus (40 orang) tetapi ada satu penulis agung yang menuntun setiap penulis manusia yaitu Allah Roh Kudus. Itulah sebabnya, meskipun Alkitab itu mencakup sejarah, budaya dan geografis yang berbeda-beda namun Alkitab memiliki wahyu yang benar-benar konsisten. Oleh karena itu, tidak ada bagian Alkitab yang bertentangan dengan apa yang diajarkan bagian-bagian lain dalam Alkitab. Prinsip konsistensi dan koherensi merupakan prinsip paling penting ketika menafsirkan teks-teks dalam Alkitab. Suatu tafsiran harus diperiksa dan diperbandignkan dengan apa yagn dikatakan Alkitab (ayat-ayat lain) dan jika ada suatu konflik atau pertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab di bagian lain, maka tafsiran atau interpretasi itu salah dan keliru.
Oleh karena itu, berhati-hatilah ketika memberikan penafsiran firman Allah dan jangan asal mengambil kesimpulan. Ingatlah perkataan Petrus ketika ia berkata, “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2 Petrus 1:20-21). Alkitab itu diilhamkan atau dinafaskan Allah (2 Timotius 3:16). Ingatlah, ketika menafsirkan firman Allah, yang dicari bukan apa menurut kita maksud ayat firman Allah itu, tetapi apa sebenarnya arti ayat itu ketika pembicara pertama menyampaikan perkatakaan itu kepada penerima tulisan itu. Inilah tugas para penafsir firman Allah dan itulah yang diajarkan kepada jemaat.
Tags: iman, keselamatan, menafsirkan firman Allah, mengetahui Alkitab, mengetahui tafsiran firman Allah, tafsiran Alkitab, tafsiran firman Allah5Related posts
Filed under: Diskusi, Tafsiran · Tags: iman, keselamatan, menafsirkan firman Allah, mengetahui Alkitab, mengetahui tafsiran firman Allah, tafsiran Alkitab, tafsiran firman Allah