Articles Comments

MENGGALI KEBENARAN » Diskusi, Tafsiran » Arti Firman Allah

Arti Firman Allah

ADA BERAPAKAH ?

[by samson h]

Seperti diketahui berdirinya berbagai denominasi di dunia ini didasarkan pada cara para teolog menafsirkan firman Allah atau yang dianut gereja itu. Dengan menganut atau pola tafsir tertentu, maka doktrin yang dihasilkan juga akan berbeda-beda yang akhirnya menghasilkan berbagai denominasi sebagai produk dari cara menafsirkan firman Allah.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, ada berapa arti suatu firman atau perkataan Allah? Di sepanjang sejarah kekristenan atau sejarah penafsiran firman Allah telah banyak mendiskusikan topik ini dan menjadi perdebatan yang terus menerus berlangsung hingga saat ini. Ada kelompok Kristen yang berbendapat bahwa arti suatu firman itu bisa beragam bahkan tak terhingga jumlahnya. Ada juga kelompok yang berpendapat bahwa arti firman Allah itu hanya dua: satu arti harfiah dan yang lainnya arti rohaniah. Dan yang terakhir, ada yang berpendapat bahwa arti suatu firman Allah itu hanya satu. Adanya perbedaan-perbedaan ini tentu akan menghasilkan beragam produk kepercayaan dalam Kekristenan. Dan inilah juga yang mendorong berdirinya berbagai denominasi di seluruh dunia.

Kita ambil sebagai contoh berbunyi demikian, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” Ayat ini kelihatan sangat sederhana tetapi di banyak Seminary ayat ini merupakan salah satu ayat yang sering didiskusikan atau diperdebatkan. Perdebatan bukan pada keabsahan ayat itu tetapi arti dari ayat tersebut.

Nah, sekarang mari kita gali lebih dalam. Siapakah yang dimaksud dengan “Imanuel” dalam ayat ini? Jika pembaca sudah sering membaca Alkitab (bukan buku-buku ), kamu pasti berkata, “Ini kan kutipan yang terdapat dalam . Itu berarti Imanuel yang dimaksud di sini sama dengan Imanuel yang dicatat dalam , yaitu Yesus Kristus.” Jika ini pendapat kamu, itu berarti logika, hati nurani, teologia dan kamu lebih bagus dari mereka yang telah menghabiskan waktu kuliah bertahun-tahun hingga mendapatkan gelar PhD, ThD, DMin dan DD, karena kebanyakan mereka tidak sependapat dengan kamu. Jika kamu tidak percaya, cobalah lihat buku-buku tafsiran (commentary), dan lihat pendapat mereka tentang Yesaya 7:14. Kamu akan diherankan bahwa mereka akan menawarkan berbagai pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan pribadi Imanuel. Sangat sedikit penulis buku tafsiran (commentary) yang dengan sepenuh hati mengatakan bahwa Imanuel dalam Yesaya 7:14 hanya bisa ditafsirkan pada diri Yesus Kristus sendiri dan tidak ada yang lain.

Kebanyakan para teolog akan menawarkan beberapa pilihan tafsiran mengenai Imanuel. Jika mereka juga menerima Yesus Kristus sebagai salah satu arti dari “Imanuel” dalam Yesaya 7:14 biasanya akan ditempatkan pada urutan terakhir atau sebagai pilihan terakhir dan bukan yang terutama. Bagi mereka arti suatu bagian firman Allah itu bisa banyak.

Contoh lain yang bisa ditelusuri adalah 1 Korintus 13:8-10 berbunyi demikian, “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.”

Ayat-ayat di atas memberitahukan beberapa hal penting tentang kasih, nubuat, bahasa roh dan pengetahuan. Namun yang menjadi contoh dalam diskusi ini adalah bahasa roh. Apakah arti “bahasa roh akan berhenti” di sini? Jika ingin lebih jelas lagi, bisa ditanyakan demikian, “kapan bahasa roh akan berhenti”?

Mungkin pembaca sudah tahu bahwa ada begitu banyak kelompok Kristen yang memiliki perbedaan pandangan terhadap ayat ini. Ada kelompok Kristen yang mempercayai bahwa bahasa roh masih ada hingga sekarang ini dan kelompok ini membentuk denominasinya sendiri serta mengumandangkan keyakinan mereka. Ada juga orang Kristen yang berpendapat bahwa bahasa roh sudah tidak diberikan lagi untuk gereja tetapi hanya untuk individu. Mereka ini juga akhirnya membentuk denominasi mereka dan mengajarkan apa yang mereka percayai Namun ada juga kelompok orang Kristen yang dengan keras mengatakan bahwa bahasa roh telah berhenti dan tidak lagi diberikan kepada gereja atau perorangan karena tujuannya telah tercapai. Lalu kelompok ini juga membentuk denominasinya.

Kedua contoh di atas memberikan gambaran bahwa denominasi gereja yang ada saat ini dibentuk dengan berbagai perbedaan-perbedaan yang didasarkan pada pola penafsiran yang dianut.

Yang menjadi pertanyaan, mana yang benar dari sekian banyak tafsiran yang diberikan? Apakah memang Alkitab (atau bagian firman Allah) itu memiliki arti yang beragam? Jika memang arti suatu firman Allah itu bisa beragam, sampai berapa banyakkah jumlah tafsiran yang masih bisa dikatakan Alkitabiah? Atau apakah arti firman Allah itu hanya satu saja? Orang-orang Kristen dan para teolog bisa saja berpikir bahwa suatu bagian firman Allah itu bisa memiliki arti beragam. Namun ketika berbicara tentang firman Allah, sebenarnya yang paling utama itu bukan apa arti firman Allah itu menurut sekelompok orang Kristen atau para teolog, tetapi apa arti firman itu menurut Allah atau pembicara atau penulis Kitab itu ketika perkataan itu disampaikan dan diterima oleh penerima atau pembaca kitab tersebut. Inilah sebenarnya yang ingin kita cari atau ketahui ketika ingin menafsirkan firman Allah.

Nah, sekarang mari kita simak dan hubungkan dengan kedua contoh di atas. Apakah dalam pikiran Allah atau penulis kitab tersebut ada beberapa arti atau satu arti saja ketika menyampaikan suatu perkataan? Apakah Allah atau penulis menginginkan penerima tulisan tersebut menebak-nebak maksud perkataannya atau langsung mengerti apa maksud pembicara atau penulis tersebut? Dengan kata lain, siapakah Imanuel yang dimaksud Allah ketika Yesaya menuliskan tulisan tersebut? Apakah Allah memiliki sederet nama atau hanya Yesus Kristus saja?

Dengan penjelasan sederhana bisa digambarkan demikian, jika seseorang berkata, kepada teman-temannya, “Saya sedang makan pisang.” Maka apa yang dalam pikiran pembicara itu adalah bahwa ia benar-benar sedang makan pisang dan bukan makan mangga atau lainnya. Dalam pikiran teman-temannya yang mendengarnya juga hanya ada satu arti dari perkataan tersebut bahwa ia sedang makan pisang dan bukan mangga atau lainnya. Dengan demikian suatu perkataan itu hanya memiliki satu arti saja dan bukan banyak. Jika seorang pembicara menyampaikan sesuatu yang lain dari apa yang ia ucapkan, ia adalah manusia berbahaya dan tidak dapat dipercaya.

Memang ada kalanya arti suatu perkataan itu tidak sama seperti apa yang diucapkan karena perkataan itu merupakan kiasan seperti yang Yesus katakan dalam Yohanes 15: 1, “Akulah pokok anggur yang benar.” Tentu saja Yesus bukanlah pokok anggur. Ia hanya mengumpamakan diriNya seperti pokok anggur yang memberikan kehidupan pada ranting-rantingnya. Kiasan adalah salah satu cara komunikasi yang juga terdapat dalam Alkitab. Biasanya suatu perkataan kiasan bisa diidentifikasi dari konteks firman Allah yang sedang dibicarakan.

Dari penjelasan sederhana ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam pikiran Allah atau penulis Yesaya 7:14, Imanuel itu hanya ditujukan pada satu pribadi saja dan bukan banyak pribadi. Adalah tugas orang-orang percaya untuk mempelajari dan menggali kebenaran firman Allah untuk mengetahui siapa pribadi yagn dimaksud di situ. Dan berdasarkan catatan firman Allah dalam Matius 1:23, dimana Matius mengutip Yesaya 7:14 itu berarti bahwa Imanuel yang dimaksud di situ hanya dimaksudkan pada diri Yesus Kristus dan bukan yang lain.

Jadi arti suatu firman itu hanya satu dan bukan banyak. Adalah tugas orang-orang Kristen dan para teolog untuk mempelajari firman Allah dan mengetahui kosa kata dan tata bahasa ayat tersebut demi mengetahui maksud Allah atau pembicara ketika firman itu disampaikan kepada umat Allah.

Tags: , , , , , , , 5

Related posts

Written by

Filed under: Diskusi, Tafsiran · Tags: arti firman Allah, hermeneutika, iman, Matius 1:23, pola menafsirkan firman Allah, tafsiran firman Allah, teologia, Yesaya 7:14

Leave a Reply

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>